Salingsapa

PASUKAN YANG TERIKAT

Selasa, 14 Juni 2016 09:00 WIB | Dilihat 2.531 kali
“ … Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga …” (HR. Muslim)

Allah menjadikan kita berbangsa - bangsa dan bersuku - suku untuk saling mengenal untuk saling memahami. Allah menciptakan kita berbeda - beda untuk saling berjamaah, untuk menemukan hikmah kehidupan.
Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi. Setiap manusia adalah tetap dirinya sendiri. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.
Berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin ummat. Tetapi jangan membebaninya dengan cara membandingkan dia terus menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz. Berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Berilah nasehat pada saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai Bahasa Ibrani dalam empat belas hari.
Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat menjadi tokoh lain pada masa yang berbeda.
Segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan dengan menuntut orang lain untuk berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman, atau ‘Ali. Fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang yang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih, dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.
Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya, dan masing-masing kaki memiliki sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menajdi ikutan sepanjang masa.
Ya. Jika hujjah telah bertemu hujjah, tak boleh lagi ada hujat. Yang boleh ada ialah saling peluk mesra. Mereka para ruh yang diakrabkan iman saling memuji dengan tulus betapapun berlainannya pikiran dan pandangan.
Dengan iman itulah mereka saling mengenali. Dengan iman itulah mereka saling mengakrabi. Tanpa bicara mereka telah menyepakati hal-hal mulia. Jika ada yang berbeda diantara mereka, semua tahu bahwa kesamaan diantara mereka lebih banyak, dan lebih tinggi nilainya. Jika ada Sembilan puluh Sembilan hal berlainan, dan hanya satu perkara saja yang serupa diantara kita, maka mari curahkan seratus persen usaha usaha untuk yang satu itu agar ianya jadi berdaya.

“ Kita saling bekerja sama,” ujar Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, “Dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan kita saling menghormati, dalam hal-hal yang kita perselisihkan,”. Begitulah ruh-ruh yang diakrabkan iman.

comments powered by Disqus