Salingsapa

Membuat Anak Gila Membaca

Selasa, 22 Desember 2015 09:00 WIB | Dilihat 3.295 kali
“ … Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga …” (HR. Muslim)

Seperti yang sudah Anda ketahui, membaca buku bukan hanya proses peningkatan intelektual semata. Lebih dari itu, membaca buku menentukan maju dan tidaknya suatu bangsa.
Milan Kunder, penulis asal Ceko berkata, jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya. Maka, pastilah bangsa itu akan hancur dan musnah.
Solusi sederhana yang bisa Anda terapkan, adalah mendidik generasi muda melalui keluarga. Baru kemudian lingkungan sekitar Anda. Bila, masing-masing orang tua sadar dan peduli akan hal ini, bisa dipastikan kedepan, generasi pecinta buku akan semakin banyak daripada sekarang.
Berikut, lima langkah yang bisa Anda terapkan, dalam keluarga untuk membuat anak gila membaca sejak bayi. Dikutip dari buku Mohammad Fauzil Adhim, berjudul Membuat Anak Gila Membaca.
Pertama bacakan buku sejak anak baru lahir
Anda tidak perlu menunggu anak berusia lima/enam tahun untuk bisa membacakan sebuah buku. Anda bisa mulai mengenalkan membaca kepada anak sejak awal kelahirannnya.
Sebab perkembangan otak paling pesat terjadi pada rentang usia 0-6 tahun. Delapan puluh persen ukuran otak Anda pada masa dewasa ini, bahkan ditentukan pada dua tahun pertama Anda. sayangnya, pendidikan di Indonesia justru dirancang untuk usia enam tahun ke atas.
Pada masa komunikasi prasimbolik, setiap rangsanan komunikasi memberi pengaruh yang sangat besar bagi keterampilan komunikasi anak, termasuk di dalamnya kemampuan berbahasa dan berpikir.
Langkahnya, bacakan buku pada anak dengan suara dikeraskan. Hal ini bermanfaat untuk merangsang komunikasi yang baik, mendorong anak untuk menyukai membaca, kemampuan, dan kapasitas otak anak berkembang jauh lebih baik.
Bacakanlah buku dengan suara yang berubah-ubah sehingga berirama. Sesekali meninggi dan rendah. Metode ini, akan membuat anak tertarik, sehingga anak benar-benar terlibat secara psikis.
Kemudian, bacakan buku kepada bayi dengan cara seolah-olah mengajaknya berbicara dan bercerita, cenderung lebih menarik bagi bayi. Daripada membacakan dengan apa adanya (datar).
Bayi mengomunikasikan ketertarikannya pada sesuatu, sejak minggu-minggu pertama usianya. Tetapi, biasanya kita menangkap isyarat komunikasinya dengan jelas sejak usia sekitar dua atau tiga bulan.
Pada akhir bulan kedua, bayi menunjukkan ketertarikannya pada sesuatu dengan mengeluarkan bunyi menyerupai gumam.
Akhir bulan ketiga, bayi mengomunikasikan ketertarikannya dengan isyarat yang lebih jelas. Selain itu, bayi juga mulai bisa menunjukkan ketertarikannya dengan menggerakkan tangan ke arah buku yang Anda bacakan. Pandangan matanya juga lebih terarah.
Bulan keempat, bayi mulai menunjukkan ketertarikannya dengan mengigit buku yang Anda bacakan—itu sebabnya, buku untuk bayi perlu bahan yang tidak mudah sobek— dan mengamati buku yang dipegangnya. Saat dibacakan buku, mata anak juga lebih berbinar-binar.
Akhir bulan kelima, bayi mulai terampil menggerak-gerakkan tangan ke arah buku yang sedang dibacakan untuk menunjukkan ketertarikannya. Bayi berusaha memegang dan menyentuh buku. Pada usia ini, bayi masih suka menggigit buku yang dibacanya. Inilah gaya khas bayi sehingga Anda tidak perlu marah, kalau buku lebih cepat rusak.
Akhir bulan keenam dan ketujuh, bayi mulai aktif meraih buku yang ada dihadapannya. Ia berinisiatif mengambil buku sebagai mainan yang menyenangkan. Pada usia ini, bayi mulai senang mengoceh, terutama ketika ia sangat tertarik dengan buku yang Anda bacakan kepadanya. Ini sejalan dengan perkembangan berbahasa anak.
Kedua, membuat pola baca
Kebiasaan membaca yang mulai Anda tanamkan sejak anak baru lahir cenderung membentuk pola membaca pada anak.
Anda bisa membacakan buku setiap kali anak akan menjelang tidur. Anda juga bisa membacakan buku setiap saat, kapan saja ada kesempatan. Nantinya anak Anda, akan mengikuti pola yang Anda buat.
Ketiga, bukalah buku bersama anak
Saat usia anak semakin bertambah, Anda harus mengenalkan membaca kepada anak dengan cara yang lebih kaya. Saat anak berusia tiga atau empat bulan, anda bisa mulai mengajak anak membaca buku bersama.
Caranya, dudukkanlah anak dipangkuan Anda. Letakkanlah ia dengan cara yang membuatnya merasa nyaman. Apabila perlu, Anda bermain-main dulu untuk membuatnya benar-benar siap Anda bacakan buku.
Sebelum membacakan buku, ajaklah anak Anda berdialog. Sehingga ia merasa Anda mengajaknya berbicara. Sampaikan terlebih dahulu, kepada bayi Anda kegiatan yang akan Anda lakukan bersamanya. Mesikupun belum bisa berkomunikasi dengan baik, bayi akan lebih mudah tertarik apabila ia dilibatkan.
Keempat, berikan buku yang sesuai
Buku untuk bayi sebaiknya menggunakan bahan kertas yang cukup tebal, tidak mudah sobek, kaya warna, dan tidak banyak tulisan. Idealnya satu buku memuat tidak lebih dari 300 kata. Atau kalau memang harus menggunakan banyak kata, kemasannya dirancang agar menarik dilihat. Sayangnya, di Indonesia jarang sekali tersedia buku-buku bayi.
Untuk menyiasatinya, Anda bisa membuat sendiri. Caranya ambillah kertas karton. Guntinglah tiga bagian kertas berukuran 20 cm x 40 cm, masing-masing dilipat sama panjang menyerupai buku. Tempelkan gambar huruf, gambar angka, atau gambar benda yang warnanya mencolok. Atau bisa juga Anda menyusun sendiri buku untuk bayi Anda dengan memberikan tulisan/gambar yang menarik.
Kelima, pilihlah bacaan yang bergizi
Pastikan juga buku-buku yang Anda bacakan benar-benar buku yang bergizi bagi jiwa, hati, dan pikiran anak. Agar upaya Anda merangsang anak gila membaca benar-benar dapat memberi manfaat yang optimal.
Pilihlah buku-buku yang memiliki struktur penceritaan yang sangat kuat. Sebab hal ini akan memberi pengaruh yang luar biasa besar pada kemampuan dan cara berpikir anak.
Bagaiamana menurut Anda? Semakin dini Anda membiasakan membaca pada anak. Maka semakin kuat pula kecintaan anak pada buku.
Selamat mempraktikkan!

comments powered by Disqus